Pelaku Perusakan Benteng Eks Keraton Kartasura Akhirnya Ditahan Di Polres Sukoharjo

Selasa, 04 Oktober 2022 : 07:07



Pengacara Bambang Ary Wibowo

Radar Pos.Com.Sukoharjo
--- Pelaku perusakan benteng eks Keraton Kartasura, Kabupaten Sukoharjo,Jawa Tengah berinisial MKB (45), akhirnya ditahan di Tahanan Polres Sukoharjo. Penahanan ini seiring lengkapnya berkas perkara (P21) dan sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sukoharjo.

Kuasa hukum tersangka, Bambang Ary Wibowo, mengatakan selama proses pelimpahan tahap pertama kliennya tidak dilakukan penahanan.

"Ini sesuai mekanisme, setelah tahap 1 masuk tahap 2 yakni penyerahan barang bukti kepada JPU Kejari Sukoharjo. Kami mengajukan penahanan luar, tapi ada satu hal klien kami ada di tahanan Polres Sukoharjo dulu untuk ditahan," kata Bambang saat ditemui di Kejari Sukoharjo, Senin (3/10/2022).


Menurut Bambang, tidak ditahannya tersangka selama proses penyelidikan karena pihaknya mengajukan tahanan luar. Permohonan itu dikabulkan, namun tersangka dikenakan wajib lapor.

"Kami memang mengajukan permohonan untuk penahanan luar dan dikabulkan. Makanya tadi alasan penahanan subjektif, semua alasan kita berikan, seperti 12 kali kehadiran absensi kita sesuai, apakah itu tidak ada pertimbangan? Tapi Kejaksaan Tinggi menghendaki adanya penahanan untuk proses hukumnya," ujarnya.


Bambang berharap Kejari Sukoharjo segera memproses P21 ini agar persidangan segera dilakukan.

"Tadi disepakati tidak sampai 20 hari akan segera diproses (dilimpahkan). Karena dari proses penyelidikan lebih dari 60 hari, tapi kita kooperatif saja," pungkasnya.

Kasi Intel Kejari Sukoharjo, Galih Martino Dwi Cahyo, mengatakan pihaknya telah menyiapkan 5 Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang terdiri dari 2 orang dari Kejaksaan Tinggi dan 3 orang Kejari Sukoharjo.

"Administrasinya segera siapkan, nanti segera kita limpahkan ke PN Sukoharjo. Untuk jadwalnya belum bisa kita pastikan tanggal berapa, nanti yang menentukan hakim. Biasanya dari pelimpahan, 3 hari kemudian jadwal sidang sudah keluar," ucapnya.

Pelaku sendiri terancam Pasal 105 jo pasal 66 UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya dengan ancaman hukuman 1-15 tahun penjara dan atau denda paling sedikit Rp 500 juta dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

"Karena ancaman hukumannya, tersangka bisa ditahan. Dan penahanan ini untuk mempermudah proses persidangan," kata dia


(R-01)

Bagikan

RadarposTV