Belajar dari perjalanan Guru Bangsa (alm) HOS Tjokro aminoto di CSI sampai gerakan- "Parade Nusantara"

Sabtu, 04 Juni 2022 : 16:27




Alm Sudir Santoso Semangatnya Mengebu-gebu

Radar Pos.Com
.--Jauh sebelum merdekanya bangsa ini, tepatnya di tahun 1905 seorang putra terbaik bangsa ini telah sadar berorganisasi dan melahirkan sarekat dagang islam(SDI) beliau adalah Haji Samanhudi, yang lahir di laweyan surakarta tahun 1868. 


Setelah 1 tahun SDI tepat di tahun 1906 SDI berubah menjadi Sarekat islam (SI) di kongres pertamanya di Solo tahun 1906. Di tahun 1912 H. Samanhudi merangkul HOS Tjokroaminoto dan memberi mandat agar membentuk AD /ART baru dan menuangkan gagasan yang maju untuk di tuangkan dalam tujuan SI

 
Selanjutnya beliau menghadap notaris B. ten kuile di Solo untuk membuat badan hukum,dengan warna SI yang baru, yang awalnya bergerak hanya di bidang ekonomi dan sosial, Kini SI baru secara yuridiks SI juga bergerak di bidang politik dan Agama untuk semangat juang rakyat terhadap kolonialisme dan imperialisme.

 Selanjutnya pada tgl 18 februari 1914 di Jogjakarta di putuskan Haji Samanhudi menjadi ketua kehormatan dan HOS Tjokro aminoto menjadi ketua dan Gunawan menjadi sekertaris ,hingga tahun 1916 pengurus Central SI baru di akui. Karena faktor kesehatan maka sejak tahun 1920 ,beliau Haji Samanhudi tidak aktif lagi di kepengurusan partai.

Dalam perjalanannya, SI bermetamorfosa dan berganti nama :
-Central sarekat Islam (CSI) di tahun 1916.
-Partai sarekat islam (PSI) tahun 1920.
-Partai Sarekat islam Hindia Timur (PSIHT) tahun 1923.
-partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1929.
-Syarikat Islam (SI )tahun 1972.
Selanjutnya di tahun 2015 di puncaknya dalam keputusan majelis tertingginya memutuskan SI kembali kepada khittahnya dalam gerakan ekonomi.

Kembali mengingat sejarah SI
di tahun 1921 pecah menjadi dua karena di masuki faham sosialisme revolusioner.
Dua kelompok itu adalah "SI merah"  berlandaskan asas "Sosialisme-komunisme" di pimpin semaoen bersama Darsono, Tan malaka, dan Alimin prawirodihardjo berpusat di semarang. 


Dan "SI putih Yang di pimpin oleh HOS Tjokro aminoto, beserta H.  Agus salim, Abdul muis,  Suryo pranoto, Sekarmadji Maridjan Karto suwiryo, berhaluan kanan dan berpusat di Yogyakarta.
Hal itu terjadi karena Semaoen dan Darsono di keluarkan dari organisasi. Desakan abdul muis dan Agus salim pada kongres SI yang ke 6 pada 6-10 oktober 1921 tentang perlunya disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Agar SI bersih dari unsur lain,terutama komunis. Hal itu di perkuat dalam kongres SI di bulan Februari 1923 di Madiun.

Hos Tjokro Aminoto

Sehingga perlawanan PKI dalam kongresnya bulan maret 1923 memutuskan untuk menggerakkan SI merah untuk menandingi SI putih sehingga SI merah di tahun 1924 berganti menjadi "Sarekat rakyat ".
Dan di tahun 1929 PSI berubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) .

Kenapa Sejarah ini saya sampaikan dan saya ingatkan kepada pembaca yang bijak??  Karena Dalam perjalanan Sarekat Islam ada sejarah menarik yang perlu saya sampaikan agar cara pandang pembaca dari salah ,lupa menjadi ingat dan paham!!!.


 

poto Bersama Pengurus

Bahwa selain saya Dwi Cahyono, alm Sudir santosa dan beliau guru bangsa HOS Tjokro aminoto setuju bahwa Desa adalah cikal bakal, pilar bangsa dan pondasi negeri.Bukti itu adalah,Juni tahun 1916 atau 106 tahun yang lalu, Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto membacakan pidatonya yang berjudul Zelfbestuur di depan peserta Kongres Nasional Sarekat Islam I di Bandung. Sosok yang dikenal sebagai Guru Bangsa ini menyampaikan pentingnya sekolah politik, kepala desa, serta membicarakan tentang Undang-Undang Perkampungan. Berikut ini cuplikan pidato panjangnya:


(Bersambung /Dwi Cahyono Aktifis Parade Nusantara)

Bagikan

RadarposTV