Pedagang Kuliner Di Madiun Menyiasati Cabai Rawit Yang Harganya 100 ribu lebih

Rabu, 10 Maret 2021 : 06:52


 
 

Cabai yang hargainya Melangit

Radar Pos.Com.Madiun--
Satu bulan terakhir harga cabai rawit di Kabupaten Madiun mencapai Rp100.000 per kilogram. Kondisi ini membuat pusing para pengusaha makanan dan restoran. Mereka harus memutar otak agar usaha mereka tak merugi karena tingginya harga cabai rawit.


Salah satunya pelaku usaha makanan di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Luki Dariyanti. Yanti, panggilan akrabnya, berjualan pentol goreng dan ceker lunak. Cabai rawit sangat dibutuhkan untuk membuat sambal. Jualan pentol goreng dan ceker lunak tanpa sambal, bagaikan memasak sayur tanpa garam. Hambar.


“Saya kan sangat bergantung pada cabai. Untuk pembuatan sambal pentol goreng biasanya menggunakan cabai rawit lima kilogram. Kalau sekarang harganya Rp100.000, kan tentu sangat berat bagi saya,” jelas dia saat ditemui di warungnya, Senin (8/3/2021).


Sejak harganya naik tajam, Yanti mengganti cabai rawit dengan cabai kering. Karena cabai kering harganya hanya Rp70.000/kg. Ia hanya membutuhkan dua kilogram cabai kering untuk kebutuhan pembuatan sambal.


Pedagang yang ada di Jawa timur

“Saya sehari bikin dua baskom sambal pentol. Sambalnya itu campuran saus dan cabai. Dan setelah diganti dengan cabai kering, ternyata lebih pedas,” ujarnya.


Menurut dia, penggunaan cabai kering menjadi solusi di saat harga cabai rawit naik tinggi. “Sebelum cabai kering ini digiling, cabainya direbus dulu. Ini pengolahan yang beda jika dibandingkan cabai segar,” kata Yanti.


Pedagang cabai di Pasar Sambirejo Kabupaten Madiun, Narti, mengatakan cabai kering belakangan banyak diminati seiring meroketnya harga cabai rawit. “Sejak cabai rawit naik tinggi, banyak yang mencari cabai kering. Biasanya yang mencari cabai kering ini penjual makanan,” jelas dia saat ditemui di kiosnya, Senin.

(R-01)
 

Bagikan

RadarposTV