Menristek Perkenalkan GeNose dan CePAD untuk Deteksi Covid-19

Rabu, 30 Desember 2020 : 06:31


Menristek Bambang Brojonegoro

Radar Pos.Com.Jaakarta
— Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro memperkenalkan produk inovasi terbaru dari Konsorsium Covid-19 Kemenristek/BRIN yaitu GeNose C19 yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan CePAD yang dikembangkan Universitas Padjadjaran (Unpad) kepada masyarakat.

“Pada intinya kita perlu memperkuat sistem surveilans, 4T (testing, tracing, tracking, dan treatment) ditambah dengan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak). Karena itu Indonesia perlu mempunyai kemandirian di dalam melakukan testing dan monitoring terutama untuk skrining. Di sinilah dituntut kemampuan kita untuk melakukan inovasi melahirkan alat yang nanti bisa melakukannya dengan waktu yang cepat, relatif nyaman, dan juga mempunyai tingkat akurasi yang tinggi,” jelas Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro, seperti dilansir laman infopublik.id, Selasa (29/12).

Saat mengadakan konferensi pers secara daring dalam rangka memperkenalkan produk inovasi tersebut, Senin (28/12), Menristek Bambang memaparkan, setelah diserahterimakan pada tanggal 24 September 2020 pada acara public exposure di kantor Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), dan setelah menjalani serangkaian uji klinis dan diuji coba di 8 Rumah Sakit, GeNose C19 secara resmi diumumkan telah mengantongi Izin Edar KEMENKES RI AKD 20401022883 dan siap diproduksi massal untuk dipasarkan.

Untuk tahap awal (batch pertama) GeNose C19 telah diproduksi sekitar 100 unit. Dengan jumlah terbatas ini diharapkan akan mampu melakukan minimal 120 test per alat atau total 12.000 orang per hari. Keberhasilan GeNose C19 merupakan contoh keberhasilan triple helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan industri.

Dalam hal ini GeNose C19 dikembangkan oleh UGM dengan dukungan dari Konsorsium Riset Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN, Badan Intelejen Negara, TNI AD, Polri, Kemenkes RI, dan pihak swasta antara lain PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (bagian mekanik), PT Hikari Solusindo Sukses (elektronik dan sensor), PT Stechoq Robotika Indonesia (pneumatic), PT Nanosense Instrument Indonesia (artificial intelligence, elektronik dan after sales), dan PT Swayasa Prakarsa (assembly, perijinan, standar, QC/QA, bisnis).

GeNose memiliki sensitifitas 90 persen, spesifisitas 96%, akurasi 93 persen dengan PPV 88 persen dan NPV 95%. GeNose C19 mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 di orofaring atau tenggorakan melalui hasil metabolisme Volatile Organic Compound (VOC) atau semacam senyawa hidrokarbon kompleks yang diproduksi dari hasil metabolisme virus.

Berbeda dengan swab test PCR yang membutuhkan waktu pemeriksaan hingga beberapa hari, GeNose C19 dapat mendeteksi Covid-19 hanya dalam hitungan beberapa puluh detik dan tanpa menimbulkan rasa sakit. Analisis datanya menggunakan Kecerdasan Artifisial, dengan biaya per test berkisar antara Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu dan hasil yang cepat sekitar 2 menit dan tanpa reagen atau bahan kimia lainnya, maka diharapkan dengan penggunaan GeNose ini bisa meningkatkan kapasitas skrining Covid-19 di masyarakat.

“Ini adalah salah satu bukti hilirisasi inovasi alat kesehatan, karena dapat langsung menjawab kebutuhan saat ini. Harganya sekitar 62 juta rupiah, targetnya kapasitas produksi nanti per Februari 2021 diharapkan sudah mencapai lebih 10.000 unit dan siap didistribusikan ke seluruh Indonesia,” jelas Menteri Bambang.

Fleksibilitas penggunaan GeNose C19 memungkinkan penempatannya di Bandara, stasiun, terminal, Rumah Sakit, perkantoran, dan tempat umum lainnya seperti tempat wisata dan pusat perbelanjaan, sehingga masyarakat diharapkan dapat beraktifitas dengan aman dan nyaman dalam rangka pemulihan ekonomi.

Tim Riset Unpad telah berhasil mengembangkan alat deteksi cepat Covid-19 menggunakan metode deteksi antigen bukan antibody seperti yang selama ini dipergunakan. Alat deteksi ini diberi nama Deteksi CePAD  sesuai semboyan “Biar CePAD  asal selamat”.  Deteksi CePAD  juga sudah mendapatkan Izin Edar KEMENKES RI AKD 20303022358 pada tanggal 4 November 2020.

CePAD  mendeteksi keberadaan antigen virus dari sampel nasal swab pada saat viral loadnya sedang tinggi ( most infectious), sehingga bermanfaat untuk mengurangi potensi penyebaran penyakit. Ketika divalidasi pada sampel klinis dan dibandingkan dengan PCR pada Ct value < 28, CePAD  memiliki sensitivitas 85 persen, spesifisitas 83 persen, dan akurasi 84 persen, dengan PPV 61 persen dan NPV 95 persen. CePAD  sudah melampaui requirement akurasi untuk antigen test dari WHO yaitu > 80 persen.

“Keunggulannya secara harga jauh lebih murah dari PCR Test, relatif cepat sekitar 15 menit dengan tingkat akurasi yang tinggi. Tentunya harus dilihat dari sensifitas dan spesifitasnya. Antigen Test ini sudah direkomendasikan oleh WHO dan juga mendapat rekomendasi dari Perhimpunan Patologi Klinis Indonesia, dan sudah digunakan beberapa Rumah Sakit di Jawa Barat, contohnya RS Pendidikan Unpad, Lab Kesehatan Pemprov Jabar, dan RS Sentosa Bandung,” terang Menteri Bambang.

CePAD  juga sudah dilengkapi dengan sistem Trace (Portal CePAD ), yaitu setiap unit memiliki barcode yang dapat terkait dengan NIK dan masuk dalam database sehingga dapat mempercepat aksi untuk penanganan orang yang terdeteksi positif Covid-19 dan pembatasan penularan penyakit.

“Perkembangan terakhir CePAD  yang dikembangkan oleh Tim Peneliti dari Universitas Padjadjaran dipimpin Pak Yusuf, sudah mendapatkan produsen PT Pakar Biomedika Indonesia dan distributor PT Usaha Bersama Jabar, dan sudah mampu memproduksi per bulan sampai 500 ribu unit,” ujar Menteri Bambang.

Wakil Menteri Kementerian Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menambahkan bahwa pihaknya akan terus membantu mendukung upaya pengembangan kedua inovasi ini untuk menjadi lebih baik ke depannya.

“Selamat UGM dan Unpad, informasi ini memberikan harapan kita semua. Paling utamanya validasinya harus kita perhatikan. Kita dari Kemenkes akan membantu memberikan validasi yang akurat, Tim UGM dan Unpad tetap akan kita evaluasi post review marketing-nya dengan uji validitas di Litbangkes. Dengan uji ini bukan kita ingin menghambat namun memberikan masukan lebih baik, sehingga akurasi dan tingkat kepercayaan terhadap produk dalam negeri akan lebih baik juga,” jelas Dante Saksono 

(R-01)

Bagikan

RadarposTV