MEMBANGUN SENSE OF BELONGING MASYARAKAT MELALUI PEMANENAN AIR HUJAN DALAM TELAAH ECOLOGY CITIZENSHIP

Jumat, 31 Juli 2020 : 07:37


       
Oleh: Dr.Dewi Gunawati,SH.M.Hum
                                                    Dosen : Ecology Citizen ,Universitas Sebelas Maret

Tulisan ini beranjak dari pencermatan penulis terhadap kondisi lingkungan yang mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Salah satu bentuk destruksi lingkungan adalah banjir dan kekeringan. Kekeringan merupakan bencana yang sering terjadi di beberapa wilayah di  Indonesia, Merujuk (BMKG), Beberapa wilayah Indonesia mendapat curahan hujan berkisar intesitas 150-200 mm sampai 400-500 mm.

Kondisi ini berdampak pada bencana banjir yang terjadi dibeberapa daerah. Bencana banjir merupakan salah satu bentuk krisis sumber daya alam yang melingkupi: berbagai masalah: Pemanfaatan air yang belum merata bagi seluruh warga masyarakat,  Pengelolaan sumber daya air yang masih belum mencerminkan asas keadilan dalam satu generasi terlihat pada peningkatan kebutuhan air namun sumber daya alam kurang mencukupi dan mungkin langka(scarcity), Penggunaan drainase konvensional yang menyalurkan air ke hilir, intensitas kekeringan yang meningkat , penurunan muka air tanah terus meningkat ,penurunan kualitas air tanah menurun ,Masalah pengelolaan sumber daya air yang berpotensi pada masalah sanitasi kesehatan dalam wujud munculnya berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kualitas air yang tidak memenuhi standar air minum. Anugerah Allah yang maha kuasa yang  harus disyukuri adalah sumber daya air.

 Kelangsungan hidup makluk hidup menyandarkan pada eksistensi sumber daya air. Air adalah simbol kehidupan selain udara. Air yang turun dari langit adalah sebuah keberkahan Ilahi yang tersurat dalam kalam Ilahi Rabbi:
QS Az Zumar  ayat 21:

     Allah SWT. berfirman م لَ َ ن َر أ تَ َ أ ن َللا َز َل َ س َم أ ِم َن ا ِء َ ء ال َما َسلَ َكه ََ فَ يَنَ م اِ فِي األ ر ِض ِي ج ِه خِر ث ِ ي م ختَِلً ا ِ َز ر عا ه َوان ل َ م أ ج ث ي َر يَ ِه اه را ًّ م صًَ م فَتَ ث ه ح ا ما ل ن يَ جعَ َط ِل َك ى ِ ِذ كَر إ فِي ذَ ل ألوِلي َِا ِب َ األل ”

     Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (QS.Az-Zumar,39:21).

     Allah SWT. berfirman مو َن ِسي ر فِي ِه ت َش َج ب َوِم نه َش َرا ء لَ ك م ِم نه س َما ِء َما ن َز َل ِم َن ال َ ِذي أ هَو ال ۞ ت ِ نِ و َن ِ ل ِه َ ك م ي ز يت ز ر َع ال ِخي َل َو ِ ال َوالن َو ا ِم ن َو َب األ عنَ ك ِل َمَرا ِت ن الث ِل َك آل ِ إ فِي ذَ و م يًَ ِلقَ رو َن يَتًََ ك ”

     Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanamantanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.’‘ (An-Nahl, 10-11)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Mikail ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan yang darinya berbagai rizki diciptakan di alam ini. Mikail memiliki beberapa pembantu. Mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka melalui Mikail berdasarkan perintah dari Allah. Mereka mengatur angin dan awan, sebagaimana yang dikehendaki oleh Rabb yang Maha Mulia.  Sebagaimana pula telah kami riwayatkan bahwa tidak ada satu tetes pun air yang turun dari langit melainkan Mikail bersama malaikat lainnya menurunkannya di tempat tertentu di muka bumi ini.( Al Bidayah wan Nihayah, 1/50.)

Firman Allah diatas menjelaskan bahwa Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat dibutuhkan seluruh makluk hidup. Krisis air memaksa manusia untuk meredefinisi ulang implementasi konsep keadilan antar generasi dalam pemanfaatan sumber daya alam. Krisis air memaksa munculnya sebuah gerakan masyarakat secara ” pentahelijk” untuk menemukan alternatif sumber air bagi kebutuhan hidup. (Maryono, 2020) Gerakan itu disebut dengan Gerakan Memanen  Hujan yang sudah eksis dan berkembang diberbagai daerah di Indonesia.
  Telaah Ecology Citizenship

Rilley Dunlap, seorang pakar lingkungan hidup dan sosiolog dari Universitas Oklahoma, menjelaskan bahwa destruksi lingkungan terjadi karena perilaku manusia yang memiliki sesat pikir terhadap sumber daya manusia yang tidak terbatas.  Pertumbuhan produksi dan konsumsi dengan indikator-indikator ekonomi menjadikan legitimasi dominasi manusia terhadap alam (Buttel, 2010)

Dalam dalil ini, kemajuan manusia berawal dari kepercayaan bahwa teknologi merupakan solusi dari masalah sosial atau fisik yang dapat muncul dalam masyarakat (Kilbourne, 2007) 2008). Adapun penggunaan teknologi merupakan bagian dari pandangan Paradigma Barat (Dominant Western Worldview-DWW) atau disebut Dominant Social Paradigm (DSP).

( https://www.mongabay.co.id/2018/04/22/menyelamatkan-bumi-yang-satu-lewat-perilaku-pro-lingkungan/

New Ecological Paradigm (Kent, 2008) merupakan paradigm baru yang menolak keberadaan alam semata sebagai bahan eksploitasi kebutuhan manusia. Rekonstruksi  paradigma baru dan nilai etik, yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Merupakan hal yang  urgensif. Pemikiran Dunlap bertolak dari dalil yang menyebutkan sebagai berikut (Riley Dunlap&Catton, 1979) (1) manusia hanya satu spesies yang terdiri dari banyak spesies yang memiliki ketergantungan dalam komunitas biotik yang membentuk kehidupan sosial; (2) Keterkaitan yang rumit menyebabkan dampak dan memberi umpan balik pada jaringan alam yang memunculkan konsekuensi yang tidak diinginkan yang berbeda dengan aksi manusia yang disengaja; (3) Potensi keterbatasan fisik dan biologis menghambat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan fenomena kemasyarakatan lainnya.

Kewarganegaraan ekologi merupakan gagasan baru yang diupayakan untuk membentuk manusia seutuhnya dalam keterlibatan menjaga pelestarian lingkungan hidup. (Curtin, 2002) Gagasan ini muncul seiring kondisi dunia yang sedang dlm keadaan krisis ekologis yang berkepanjangan. Istilah ini muncul dari LSM di Kanada,Muncul karena sebagian warga dunia tidak memiliki sejarah yang baik dalam mengelola lingkungan.

Ekologi kewarganegaraan mencakup lima komponen yang merupakan bagian sistem kewarganegaraan yang meliputi: a). Kewarganegaraan ekologis (Ecology literacy-( memahami sistem ekologis utama dengan ,pemikiran ekologis,memahami sifat ilmu ekologi dan hubungannya dengan masyarakat), b). Civic Literacy-(memahami sistem sosial,ekonomi, budaya dan masyarakat,, c).Value Awareness-( Kesadaran akan nilai-nilai pribadi berkenaan dengan lingkungan)(pengetahuan untuk menghubungkan nilai dengan pengetahuan dan kebijakan praktis untuk membuat keputusan dan tindakan),d).Self Eficiency(kemampuan untuk belajar dan bertindak berkenaan dengan nilai dan kepentingan pribadi dan lingkungan),e).Practical Wisdom-( Memiliki kebijaksanaan praktis dan ketrampilan untuk pengambilan keputusan dan bertindak berkenaan dengan lingkungan.(Berkowit, et all,2005)

Interaksi antara sistem sosial dan lingkungan perlu dibangun dalam perwujudan sebuah relasi baru. Sebuah organisasi sosial yang membentuk sistem sosial (nilai, ideologi, kepribadian, pola eksploitasi sumber daya, organisasi sosial) pun harus terbentuk di atas nilai kesadaran dan norma yang bersama-sama faktor pengetahuan dan niat mendorong dan membentuk perilaku ekologi (Fernandez Manzanal, 2007)

Menurut Strong (1995) kunci untuk memperbaiki bumi terletak pada penghorma-tan terhadap hukum alam yang dipahami oleh masyarakat asli tradisional. Masyarakat ini berbicara dengan kumpulan instruksi yang asli yang diberikan kepada mereka oleh Sang Pencipta. Mereka mengetahuinya dan meng-hidupi hukum ini, yang menuntun relasi manusia dengan empat elemen pemberi ke-hidupan, yakni, tanah, air, udara, dan api (energi); serta mengajarkan penghormatan kepada kesatuan dan kesinambungan dari seluruh kehidupan. “Tidak ada jalan lain un-tuk perdamaian kecuali semua orang harus meninggalkan gerbang istana persepsi yang relatif, turun ke padang rumput, dan kembali ke jantung alam yang non-aktif. Marilah kita katakana bahwa kunci perdamaian terletak dekat di bumi”.

Konsep dan implementasi Gerakan memanen air hujan  merupakan  kegiatan untuk menampung  air hujan, memanfaatkan secara maksimal,meresapkan kedalam tanah dan mengalirkannya kembali. Kegiatan ini merupakan salah satu alternatif dalam mitigasi lingkungan, dalam telaah  Ecological Citizenship diistilahkan dengan “memikirkan kewarganegaraan dengan cara-cara agak baru” yang dikaitkan dengan hak dan kewajiban warga negara dalam mencapai lingkungan yang bersih dan sehat. Gerakan memanen air hujan berbasis masyarakat secara “pentahelik” untuk menampung air hujan, memanfaatkan semaksimal mungkin, meresapkan ke dalam tanah, mengalirkan kelebihannya dan memelihara semua infrastruktur fisik dan sosial terkait air hujan. (Maryono, 2020)

Mengapa gerakan memanen air hujan muncul dan tumbuh? Kondisi dan Anggapan serta Perilaku Masyarakat , Air hujan dilupakan masyarakat ,Air hujan dibuang- buang mendatangkan banjir , Air hujan dianggap tidak memenuhi kualitas ,Proyek Drainase mebuang air hujan , Kekeringan meluas dan meningkat  Perubahan Iklim.(Agus Maryono,2020)

Gerakan memanen air hujan di Indonesia di bedayakan oleh sebuah komunitas  yang disebut dengan Komunitas pemanenan air hujan. Berikut komunitas pemanenan air hujan: Komunitas sedekah air hujan Sleman, Komunitas Banyu Bening Sleman ,Komunitas Kandang Hujan Klaten ,Komunitas Tahta air langit Jakarta ,Komunitas air hujan Jombang ,Komunitas air hujan Buton ,Komunitas air hujan Padang ,Komunitas air makmur Sukoharjo ,Komunitas air hujan Banjarmasin, dst

Pengejawantahan konsep kewarganegaraan menurut kalidjernih berdampak pada munculnya gerakan-gerakan lingkungan . (FK, 2011) Gerakan lingkungan dibagi menjadi tiga gerakan kewarganegaraan ekologis  (Aditjondro, 2003) yaitu: (a) Sifat gerakan adalah volunter /sukarela dan terorganisir: WALHI di Indonesia, (b) Gerakan lingkungan publik yang merupakan bentuk gerakan berbasis masyarakat, aktivitas yang dilakukan konsen terhadap keutuhan fungsi lingkungan  (c) Gerakan lingkungan yang berbasis pemerintah atau lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah mengenai upaya penanganan masalah lingkungan hidup seperti Dinas Lingkungan Hidup di Indonesia. Gerakan lingkungan mempunyai konsistensi dalam menangani isu-isu permasalahan lingkungan yang ada mereka dijuluki sebagai penyelemat lingkungan.

 Definisi kewarganegaraan ekologis dari Kennedy (2011) adalah memasukkan dimensi budaya informasi yang berbasis lingkungan. (Jagers, 2014) menafsirkannya dengan keadilan sosial, menantang perbedaan publik-swasta dan tanggung jawab. (D, 2009)mendefinisikan sebagai kegiatan yang berusaha untuk memiliki suara keadilan bagi masyarakat miskin pedesaan, masyarakat adat dan kelompok-kelompok terpinggirkan lainnya. (D, 2009)
 
Anantharaman (2014) (Anantharaman, 2014)menyoroti keterlibatan sukarela oleh individu-individu melalui mata pencaharian dalam menghasilkan sistem perilaku peduli lingkungan, sedangkan Smith & Pangsapa (2008) melihat pada aspek politik kewajiban pada ikatan antar aktor seperti organisasi sipil, pemerintah, dan badan antar pemerintah. Pencegahan masalah-masalah lingkungan dengan membentuk kewarganegaraan ekologis dapat dilakukan melalui LSM dan komunitas lainnya yang kompromi dan adil untuk mencapai keseimbangan pengelolaan sumber daya alam (Keulartz, 2018). (Smith&Pangsapa, 2008).

Setiap warga negara berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup yang baik dan sehat (Asshiddiqie, 2009). Partisipasi warga negara dalam mencegah pencemaran, kerusakan, dan melestarikan lingkungan hidup dapat dilakukan dengan kerja sama semua lapisan masyarakat. Upaya pembentukan karakter peduli lingkungan dilaksanakan melalui: pendidikan lingkungan, penegakan hukum yang jelas, dan kampanye media sosial.Konsep kewarganegaraan ekologis ditentukan dalam upaya untuk memperluas hak-hak lingkungan berlandaskan hukum, budaya kearifan lokal, dan politik. (Assshiddiqie, 2009)

Membangun Sense of Belonging Masyarakat dalam Pemanfaatan air hujan
Menumbuhkan sense of belonging, Pemaknaan Sense of belonging sebagai “ rasa memiliki”Ketika seseorang merasa memiliki, merasa diterima, dan diakui sebagai bagian dari suatu kelompok. Menurut Abraham Maslow dalam teorinya Maslow’s hierarchy of needs, Sense of belonging ini posisinya setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman.  Sense of belonging atau rasa memiliki merupakan perasaan yang dimiliki oleh setiap orang terhadap sesuatu yang dia sukai sehingga senantiasa melakukan segala hal dengan ikhlas demi menjaga eksistensi sesuatu yang dia sukai tersebut. Sense of belonging dapat diartikan banyak hal.  Sense of belonging yang ada dalam tiap individu tidak dapat dibentuk secara instan. Dibutuhkan tindakan yang berulang-ulang sampai seseorang tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukan suatu hal.

DR.RobiyantoTan:"Rasa memiliki (sense of belonging) merupakan ekspresi jiwa yang penting dalam kehidupan seseorang. Rasa memiliki juga akan memiliki dampak yang nyata terlihat secara signifikan di dalam perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki rasa memiliki akan bertindak peduli, terikat, memiliki empati, termotivasi bahkan mampu memberdayakan dirinya sendiri meskipun tidak ada stimulan.“ Merujuk James Gilmore:

 a sense of belonging is the feeling of being connected and accepted within one's family and community. It is important in healthy human development and combating behavior problems and depression.

Menumbuhkan sense of belonging dalam budaya jawa dikenal dengan rasa memiliki dikenal di Masyarakat Jawa sebagai handarbeni, sedangkan psikologi mengenalnya sebagai sense of belonging. Handarbeni merupakan bagian dari prinsip kepemimpinan yang diperkenalkan oleh Mangkunegara IV di dalam Serat Wedhatama, yang kemudian dikenal sebagai Tri Dharma. Ketiga dharma yang dimaksud ini menurut (Saddono, 2013) memiliki makna sebagai: (1) rumangsa melu handarbeni (dimaknai sebagai having sense of belongingatau rasa memiliki), (2) Wajib melu hanggondheli (hangrungkepi) (dimaknai sebagai having sense of defence atau mempertahankan), (3) Mulat sarira hangrasa wani (dimaknai sebagai after self-awareness have a braveness to actatau mawas diri). Rasa memiliki diwujudkan dalam perilaku memperhatikan kebersihan lingkungan, merawat sarana dan prasarana aset lembaga.

Handarbeni  tidak sebatas rasa memiliki, namun ada perasaan terlibat di dalam organisasi sehingga muncul rasa tanggung jawab atas nasib dan keberlanjutan organisasi.:1).Usefulness-(Kemanfaatan) Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,memiliki pengetahuan tentang pemanen air hujan, konsep, kegunaan, implementasi  dan mekanisme,merasakan kemanfaatan dari kegiatan pemanenan air hujan,
2).Doktrin-Ajaran yang bersifat mendorong, Dilakukan oleh orang yang memiliki power atau kekuasaan dalam pengambilan keputusan,Memaksa ,mengajak agar individu melakukan sesuatu seperti yang diharapkan (bagian dari sosial planning),).Habituasi-Melakukan pembiasaan terhadap aktivitas pemanenan hujan secara kontinyu ,diharapkan akan membuka mind set  masyarakat luas ,4)  Group identification-Masuk dalam komunitas pemanenan air hujan, Menjadi anggota komunitas ,Menciptakan hubungan emosional terhadap seluruh anggota, Mendorong hubungan sosial yang positif., Memberi kesempatan yang sama untuk semua ,anggota.,Berkomunikasi secara terbuka.,Saling menghormati antar anggota.
Simpulan

Membangun Sense og belonging masyarakat merupakan kajian ecology Citizensip. Ecological Citizenship diistilahkan dengan “memikirkan kewarganegaraan dengan cara-cara agak baru” yang dikaitkan dengan hak dan kewajiban warga negara dalam mencapai lingkungan yang bersih dan sehat. Sense of belonging dimaknai sebagai rasa memiliki terhadap sumber daya alam, dalam kultur jawa disebut dengan istilah ”melu handarbeni”.

 Gerakan memanen air hujan  merupakan  kegiatan untuk menampung  air hujan, memanfaatkan secara maksimal,meresapkan kedalam tanah dan mengalirkannya kembali. Kegiatan ini merupakan salah satu alternatif dalam pemanfaatan sumbe daya air yang harus dilakukan masyarakat sebagai cara untuk mewujudkan lingkungan berkelanjutan.


Bagikan

RadarposTV