MEMBERDAYAKAN RUMAH TANGGA PETANI KECIL BERKELANJUTAN

Sabtu, 20 Juni 2020 : 10:35


Oleh:
Prof.Dr.Suwarto,M.Si & Dr. Dewi Gunawati, SH.M.Hum
(Dosen Universitas Sebelas Maret)

            Kondisi ekonomi mayoritas rumah tangga petani di Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Kondisi ini diisyaratkan oleh Sao Paulo, …” Karena maklum,orang yang kaya,tidak mungkin ia akan mengayunkan cangkul di ladang,biarpun ia tahu caranya,sebagai guyonan pun tidak.tetapi pasti anda mengerti bahwa pengan sehari-hari berasal dari ladang itu, ‘kan? Semua berasal dari tangannya kaum miskin…”(coffee plantation workers, Sao Paulo, Columbia Stolke,1995:69 dalam white 2009).

Statement tersebut mengutakan istilah  dalam Bahasa jawa yang dipahami sebagai: wong cilik gawehane iplik pangane mung setitik. Usaha tani secara nyata kurang memberikan jaminan terhadap pemenuhan hidup yang sejahtera,terutama bagi petani kecil dengan skala usaha kecil dan musiman, dalam istilah pertanian disebut dengan “on farm”. 

            Menilik buku karya Prof.S.M.P Tjondro Negoro “Negara Agraris Ingkari Agraria” menukil tohokan terhadap implementasi kebijakan negara dalam mengatur  sumber agrarian dan cerminan  kondisi pedesaan di Indonesia.Indonesia ,negara agraris,  terdiri dari 74.775 ribu desa berbasis pertanian,ironisnya  mengalami  keterpurukan yang mengidentikkan bentuk krisis ekonomi, sosial dan ekologi yang berwujud dalam bentuk meningkatnya ketimpangan penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan tanah,rendahnya ekonomi rumah tangga petani. (Muh Yusuf,2016)

            Pedesaan di Indonesia yang meliputi sebagian besar adalah desa pertanian, maka pertanian merupakan sumber pendapatan utama, sedikitnya sekitar 34,8 juta ribu desa pertanian padi didalamnya ada 16 juta kepala keluarga,desa perkebunan sekitar 17, 4 ribu desa dengan melibatkan 5,5 juta kepala keluarga dan pertanian palawija di 10,3 ribu desa dengan 3,5 juta kepala keluarga. Dari ketiga sektor tersebut desa pertanian padi menyumbang buruh tani terbesar yakni mencapai 8,8 juta kepala keluarga.

            Menilik   data Sensus Pertanian tahun 2013 mendeskripsikan  Petani kecil dengan luasan lahan usaha tani kurang 0,5 ha sebarannya  di Indonesia terdapat di Jawa, di luar Jawa, dan di Jawa Tengah.Sebagaimana tersaji pada Tabel 1.  Para petani kecil terutama berada di Pulau Jawa yaitu sebesar 10.179.321 RT petani, atau sebesar 71,44 % RT petani kecil di Indonesia, dan petani kecil di Propinsi Jawa Tengah sebanyak 3.312.235 RT petani atau setara dengan 23,25 % petani kecil di Indonesia.


            Tabel 1. Rumah tangga Petani Kecil hasil Pertanian tahun 2013

No
Distribusi Rumah Tangga Petani Kecil
Lokasi
 (KK)
(%)
1
Indonesia
14.248.864
100,00
2
Luar Jawa
4.069.543
28,56
3
Pulau Jawa
10.179.321
71,44
4
Jawa Tengah
3.312.235
23,25
Sumber: BPS (2015?)

     Petani kecil umumnya membudidayakan padi dan palawija secara tumpang sari atau monokultur dari tahun ke tahun, untuk keperluan subsistensi.  Dalam hal ini sejalan dengan hasil sensus pertanian 2013 mengenai sebaran petani padi dan palawija di Indonesia sebagaimana data tersaji pada Tabel 2. Para petani padi dan palawija banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, di antaranya di Jawa Tengan terdapat 4.589.469 RT Petani padi dan palawija atau setara dengan 20,15 % RT petani padi dan palawija di Indonesia.


Tabel 2. Rumah Tangga Petani Padi dan  Palawija hasil  sesus pertanian tahun 2013

No
Distibusi Rumah Tangga Petani
Lokasi
KK
%
1
Indonesia
22.772.185
100,00
2
Luar Jawa
8.703.262
38,22
3
Pulau Jawa
14.068.923
61,78
4.
Jawa Tengah
4.589.469
20,15
Sumber: BPS (2015?)

Memberdayakan Rumah Tangga Tani Berkelanjutan

        Mencermati kondisi ekonomi rumah tangga petani yang sangat memprihatinkan, perlu  menyusun ‘social planning”, yang dimaknai sebagai cara-cara  yang mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu.   Implementasi social planning membutuhkan berbagai kompenen pendukung: a) Peraturan perundang-undangan yang responsive, bahwa masalah terkait dengan kebutuhan pertanahan adalah 1).Kepastian penguasaan,penggunaan dan pemanfaatan tanah untuk petani kecil, oleh karena itu perlu perbaikan legislasi yang mengatur terkait jaminan  terhadap rumah tangga petani untuk mendapatkan pengaruh lansung atas tanah garapan guna memenuhi kebutuhan hidup.2). Pengaturan ulang secara strict batas minimum dan maksimum penguasaan tanah secara adil.

 Selama ini pengaturan batas maksimum hanya terbatas pada lahan pertanian dan perorangan,belum ada pengaturan terkait non-pertanian dan bahan usaha atau gabungan,pengaturan ini merupakan prasarat jaminan rumah tangga petani mendapatkan tanah bagi pemenuhan  hidup. b).Struktur yang memihak pada masyarakat kecil, c).Kultur yang membangun. Salah satu komponen pendukung adalah  agent of change  baik individu ataupun kelompok masyarakat yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin atau lembaga kemasyarakatan yang memiliki sebuah kewibawaan. Peran agent of change adalah menumbuhkan  semangat kepada para petani kecil untuk memotivasi serta memberikan penyadaran akan perubahan kehidupan menjadi yang lebih sejahtera. 

            Rumah tangga petani merupakan sumber utama pemberdayaan yan merupakan unit yang produktif dan proaktif, yang disangga oleh tiga kekuatan yaitu sosial, politik dan psikologis. Kekuatan sosial menyangkut akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga, sehingga peningkatan atas kekuatan sosial secara langsung berarti  peningkatan terhadap  kekayaan produktif dalam rumah tangga. Kekuatan psikologis digambarkan sebagai rasa potensi yang menunjukkan perilaku percaya diri yang berdampak pada kekuatan sosial politis untuk meraih kekuatan dalam akses terhadap sumber daya untuk mencari nafkah. (Budi Riyanto, 2003)

            Upaya penyadaran merupakan konsep pemberdayaan yang dibangun dari ide yang menempatkan manusia lebih dari subyek dari dunianya. Dalam proses pemberdayaan terbagi dalam : pertama, pemberdayaan terfokus pada proses yang mengalihkan sebagian kekuasaan,kepada kemampuan masyarakat  agar individu lebih berdaya, dalam implementasinya  didukung oleh upaya  membangun asset material gunan mendukung kemandirian melalui organisasi, kecenderungan proses ini disebut dengan kecenderungan primer dari makna pemberdayaan. Kedua, kecenderungan sekunder yang terfokus pada sharing ,urun rembug,yang berorientasi pada kemampuan individu untuk mengotrol lingkungannya. 

Pemberdayaan merupakan proses yang menyangkut hubungan kekuasaan yang berubah antara individu,kelompok dan lembaga sosial. Pemberdayaan juga merupakan proses perubahan individu yang mengambil tindakan atas nama sendiri dan mempertegas kembali pemahaman terhadap dunia tempat tinggal. nyadaran tersebut berakar dari identifikasi  modal dasar yang paling mahal yaitu sumber daya manusia yang cerdas dan smart yang bertolak dari niatan untuk mengubah nasib menjadi berkehidupan yang layak. da pada mereka untuk mengubah nasip mereka menjadi berkehidupan secara layak.

            Inti pemberdayaan adalah terjadinya perubahan yang signifikan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga tani melalui optimalisasi segala potensi yang ada pada masyarakat tani serta dukungan yang nyata dari pemerintah dan pihak-pihak yang peduli melalui penyuluhan pembangunan.

            Penyadaran untuk berubah menjadi lebih baik; kepada para petani harus disadarkan bahwa mereka mempunyai kesempatan dan bisa merubah nasip, bisa meningkatkan pendapatan dan tingkat kesejahteraan. Misalnya bersama petani dilakukan analisis mengenai permasalahan-permasalahan yang dihadapi, disusun pohon masalah hingga pendapatan mereka rendah  dan kemudian disajikan cara-cara mengatasi permasalahan sebagai pohon harapan  sehingga pendapatan mereka menjadi tinggi.  Kepada para petani diajak menyusun rencana perubahan perilaku berusaha dan capaian rencana pendapatan yang dapat diperoleh baik jangka pendek menegah maupun jangka panjang. 

            Merujuk Laporan The World Development Report (WDR) 2008: Agriculture for Development ,bank dunia menjelaskan angka kemiskinan di pedesaan Indonesia memeiliki trend penurunan (world bank 2008). Salah satu negara yang mengalami transformasi structural dimana kontribusi sector pertanian hanya sekitar 25% terhadap GDP. Transformasi structural disusuli dengan penurunan jumlah penduduk miskin di pedesaan. Ketika ditelisik penurunan angka kemiskinan tersebut terpatri pada 3 jalur; usaha tani komersiil, diversifikasi nafkah rumah tangga petani,pengerahan tenaga kerja upahan, migrasi keluar desa.

            Selanjutnya akuisisi tanah secara luas merupakan salah satu upaya mengurangi kemiskinan melalui tiga cara: penciptaan tenaga kerja upahan, pertanian kontrak dan pembayaran sewa/pembelian atas tanah , data tersebut merujuk pada abnk dunia(2011) yang menyebutkan bahwa” Rising global interest in farmland: can it Yield Sustinable and Equitable benefits?’

Memberdayakan petani berkelanjutan dapat dijelaskan sebagai berikut: Pemberdayaan para petani selanjutnya dapat dirinci atas jenis usahanya baik on farm, off farm dan non farm.
1. On farm
     Umumnya jika lahan petani subur dengan pengairan yang baik petani mengguanakan usahatani padi sawah, jika lahannya merupakan lahan kering para petani menggunakan lahannya untuk budidaya padi dan palawia, monokultur ataupun tumpang sari. Sebaiknya para petani juga memelihara ternak, selain sebagai kombinasi usaha untuk mewujudkan usahatani yang bekelanjutan dan yerow waste.  Usaha dari ternak juga memberikan banyak peningkatan pendapatan bagi petani. 
     Permasalahan pada petani kecil dengan lahan <0,5 ha adalah jauh belum optimalnya usahatani jika komoditasnya padi dan palawija sebagaimana kebanyakan petani. Undang-Undang Pokok Agraria 1960 jiwanya mengarahkan agar petani padi dan palawija menggunakan lahan tidak kurang dari 2 ha, dengan menghindari fragmentasi lahan pada sewa dan bagi hasil. Di samping itu, banyak para petani kecil tidak memiliki ternak sapi, yang bagi para petani ternak di samping penghasil pupuk juga bermakna sebagai tabungan.

2. Off fam
     Usahatani bersifat musiman, keperluan tenaga kerja fluktuatif, sehingga para petani  sering mengalami pengangguran tidak kentara.  Di musim kemarau pada lahan kering atau seperti pada masa setelah selesai menanam dan memelihara tanaman,  apalagi jika skala usahanya kecil. Untuk mengoptimalkan pendapatan usahatni, para petani perlu diberdayakan untuk memiliki kreativitas usaha pada off farm. Seperti sebagian peternak bebek tidak langsung menjual telur bebeknya dalam bentuk segar, tapi mengasinkan terlebih dahulu dan menjualnya dalam bentuk telur asin. Demikian pula sebagian petani ubi kayu dan petani pisang, mereka dapat membuat kerupuk ubi atau ceriping pisang.  Bahkan sebagian petani di Kabupaten Gunung Kidul mereka mau berburuh tani pada lahan petani dekat kota yang akan dibayar pada waktu setelah panen atau pada hari raya (disebut royongan).

3. Non farm
     Penggunaan tenaga kerja pada usahatani petani kecil pada on farm dan off farm, pada umumnya belum optimal. Banyak petani melihat peluang tersedianya peluang bekerja dan berusaha pada Non Farm. Hasil penelitain kami pada 225 kepala keluarga petani kecil lahan kering, umumnya para petani kecil relatif miskin di Kabupaten Gunung Kidul Zona Selatan bekerja pana non farm, disajikan pada tebel 3.


 Tabel  3  Petani  berdasarkan Kelembagaan Pekerjaan Non Farm
                di Kabupaten Gunung Kidul Zona Selatan
Lingkungan Usahatani
Pekerjaan Luar Usahatani
Buruhtani
Dagang&Jasa
Tukang&rajin
Tani saja
Jumlah
KK
%
KK
%
KK
%
KK
%
KK
%
Lokasi dekat dengan pasar/pekerjaan luar usahatani (1)
Jumlah (1)
16
12
49
35
59
43
13
10
137
100
Lokasi jauh dengan pasar/pekerjaan luar usahatani (2)
Jumlah (2)
40
45
11
13
18
20
19
22
88
100
Jumlah (1+2)
56
25
60
27
77
34
32
14
225
100
Sumber: (Suwarto, 2007)

     Para petani yang tinggal relatif dekat dengan kota atau pasar 137 KK di antaranya hanya 13 KK atau 10% dari para dari para petani tersebut yang belum atau tidak bekerja atau berusaha pada luar usahatani ( off farm dan non farm). Bagi para petani yang relatif jauh dengan kota atau pasar 88 KK, di antaranya 19 KK atau 22 % dari para dari para petani tersebut yang belum atau tidak bekerja atau berusaha pada luar usahatani. Selanjutnya besarnya sumbangan pendapatan usahatani atas pendapatan RT tani dapat dicermati data pada tabel 4. 

Tabel 4  Kontribusi Pendapatan Usaha Pertanian atas Pendapatan Rumah Tangga Tani
        berdasarkan  Luas Lahan dan Lokasi Tempat Tinggal  Petani  
        Kabupaten Gunung Kidul Zona Selatan

Lahan dan Lingkungan Fisik

Jum.Petani
(KK)
Kontribusi Pendapatan UT (%)

Keterangan
Luas  Lahan UT
1. ≥0.5ha
2. <0.5ha

121
104

62,61
52,15
Beda kontribusi (%)
=10,46%*
t hit= 3,498
Lokasi
1. Dekat dengan kota
2. Jauh dari kota

137
88

49,33
70,93
Beda kontribusi  (%)
= 21,6%*
t hit= 5,973
Sumber: (Suwarto, 2011)
            *)= nyata pada α=5%.

          Sebagaimana data pada tabel 4, sumbangan pendapatan usahatani pada pendapatan RT tani para petani yang tinggal relatif dekat dengan pasar, hanya sebesar 49,33 %, sebaliknya bagi para petani yang tinggal  relatif jauh dari kota atau pasar, sulit mengakses pekerjaan dan berusaha  pada pekejaan luar usahatani atau relatif masih bertumpu pada usahatani. Para petani kecil relatif miskin harus diberdayakan untuk mau dan mampu menggunakan sumberdaya terutama tenaga kerjanya secara optimal untuk dapat meningkatkan pendapatan RTnya.

     Para petani lahan kering daerah berbukit kapur Kabupaten Gunung Kidul Zona Selatan sebagian petani menguaasai lahan lebih 0,5 ha.  Terdapat pembagian kerja terutama para petani yang relatif dekat dengan kota atau pasar, bagi bapak tani hanya diharapkan ikut menanam, menyempot jika ada serangan hama penting dan ikut memanen.  Selebihnya pekerjaan usahatani tersebut dilaksanakan oleh para ibu tani.  Para ibu tani mengolah lahan pada musim kemarau, waktu tersedia panjang, ikut menanam, memelihara tanaman, mendangir, dan juga ikut memanen. Para petani dekat kota atau pasar memberi prioritas yang tinggi pada pekerjaan luar usahatani.

            Merujuk pada Francis Moore lapped an Paul Dubois dalam Syamsuni Arman,2000) seni yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pemberdayaan masyarakat meliputi:a). active listening,banyak mendengar sambal merusaha menangkap makna  dari masalah yang terakumulasi dalam masyarakat , b).creative conflict:meninjolkan perbedaan yang merangsang pertumbuhan, c).mediation,memberikan fasilitas dalam menyikapi adanya perbedaan, d).Negotiation, penyelesaian yang menyentuh kunci dari  semua pihak yang terlibat. e)political imagination memberikan gambaran masa depan yang sesuai  dengan nilai yang dianut bersama, f).Public dialog,melakukan musyawarah public  atas masalah yang ada,g).public judgment, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih diatara beberapa alternative h). celebration and appreciation,  mengekspresikan kegembiraan dan  penghanghargaan  atas apa yang sudah dipelajari dan dicapai, i).evaluation and reflection,menilai kembali dan mempergunakan  hasil dalam tindakan, j). monitoring , membimbing dan membantu anggota masyarakat. 

      Kiranya pelu pemikiran dan upaya pemberdayaan untuk membantu para petani kecil agar mereka bisa membantu mereka sendiri, misalnya perlu adanya pelatihan-pelatihan off farm yang diperlukan para petani, pemberian jasa layanan informasi tersedianya lapangan pekerjaan formal bagi sebagian anak muda yang membutuhkan.

(##)
Bagikan

RadarposTV