Makna dan Filosofi Ketupat Lebaran

Kamis, 28 Mei 2020 : 16:31
Radarpos.com - Saat hari raya Idul Fitri, banyak ditemukan pedagang yang menjajakan ketupat di mana-mana. Harga yang ditawarkan juga berbeda-beda. Tapi, biasanya kalau sudah dekat dengan hari Lebaran, harga ketupat bisa jauh lebih mahal dari biasanya.

Selain disajikan ketika momen Lebaran tiba, pernah tidak coba mencari tahu asal usul ketupat ini sebenarnya dari mana ya? Atau filosofi dan makna di balik bentuk ketupat apa ya?

Nah, ternyata ketupat sudah ada pertama kali sejak zaman Wali Songo. Makanan ini diperkenalkan oleh salah satu wali, Sunan Kalijaga, yang pada waktu itu berdakwah menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Tapi, di zaman Sunan Kalijaga makanan itu tidak dinamai dengan ketupat seperti yang kita ketahui sekarang. Istilah yang dikenal saat itu adalah Bakda yang artinya setelah.

Pada masa itu, ada dua Bakda yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran adalah saat Hari Raya Idul Fitri. Seluruh umat Islam diharamkan berpuasa pada hari itu.

Sementara, Bakda Kupat dilaksanakan satu minggu setelah Lebaran dan ini merupakan hari raya bagi yang melaksanakan puasa Syawal selama enam hari. Kalau sekarang, istilahnya adalah "puasa enam".

Dalam bahasa Jawa, Kupat singkatan dari "ngaku lepat". Artinya, mengakui kesalahan. Maka dari itu, selalu ada prosesi sungkeman sebagai salah satu tradisi Lebaran masyarakat Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri.

Orang yang lebih muda bersimpuh di hadapan orang tua sambil meminta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat. Jadi, sudah tau ya kenapa kalau Idul Fitri identik dengan sungkeman?

Di samping itu, ada juga yang ternyata menyebut kepanjangan dari Kupat adalah "laku papat" atau empat tindakan. Ya, empat tindakan ini kita lakukan saat hari raya tiba yaitu lebaran, luberan, leburan, laburan.

Kata "lebaran" sendiri artinya usai. Itu menandakan bahwa waktu berpuasa di bulan Ramadan sudah selesai. Lalu, kata 'luberan" berasal dari kata meluber atau melimpah. Jadi, kita diharapkan berbagai rezeki kepada yang membutuhkan melalui zakat dan sedekah.

Kemudian, kata "leburan" artinya habis melebur. Maka dari itu, saat Lebaran tiba semua dosa dan kesalahan akan melebur karena semua umat Muslim saling bermaaf-maafan.

Terakhir, kata "laburan" berasal dari kata "labur" atau kapur. Zat kapur dikenal sebagai penjernih air atau pemutih dinding. Harapannya, saat Hari Raya Idul Fitri, setiap insan kembali suci baik lahir maupun batin, merayakan kemenangan.

(**)
Bagikan

RadarposTV